Ridho dengan Nafsu adalah pangkal
kemaksiatan
أَصْلُ كلُّ مَعصِيَّةٍوَغَفلةٍ وَشَهْوَةٍ
الرِّضاَ عَنِ النفْسِ، واصْلُ كُلِّ طَاعةٍ وَيَقَظَةٍ وَعفَةٍ عَدَمُ الرِّضاَ
مِنْكَ عَنْهاَ
43."Pokok /sumber dari semua maksiat, kelalaian dan syahwat itu,
karena ingin memuaskan (ridho dengan)hawa nafsu. Sedangkan pokok/sumber segala
ketaatan, kesadaran dan moral [budi pekerti], ialah karena adanya pengendalian
terhadap hawa nafsu."
Syarah
Sebagaimana firman Alloh subhanahu
wata'ala:
"Dan aku
tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu
menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.
Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang. QS. Yusuf 53.”
Ridho dengan nafsu itu menjadi sumber
semua kemaksiatan dan lupa kepada Alloh dikarenakan menjadi sebabnya
tertutupnya cela dan cacatnya nafsu, sehingga celanya nafsu akan dianggap baik.
dan orang yang ridho dengan nafsunya akan menganggap baik kelakuannya, orang
yang menganggap baik kelakuannya tentu akan lupa kepada Alloh, dan sebab lupa
itu manusia tidak mau meneliti kelakuannya dan meneliti aib dan cela dirinya,
sehingga macam-macamnya kesenangan nafsu menguasai hatinya, dan ahirnya dia
terjerumus pada kemaksiatan.
Abu Hafash berkata: "Barangsiapa yang
tidak menuduh hawa nafsunya sepanjang waktu dan tidak menentangnya dalam segala
hal, dan tidak menarik ke jalan kebaikan, maka sungguh ia telah tertipu. Dan
barangsiapa melihat padanya dengan sebuah kebaikan, berarti ia telah
dibinasakannya."
Al-Junaid al-Baghdadi berkata:
"Jangan mempercayai hawa nafsumu, walaupun telah lama taat kepadamu, untuk
beribadah kepada Tuhan-mu."
Al-Bushiry dalam Burdahnya berkata:
"Lawan selalu hawa nafsumu dan syaitan serta jangan menuruti keduanya,
walaupun keduanya itu memberi nasehat kepadamu untuk berbuat kebaikan, tetap
engkau harus curiga dan waspada."
Sedangkan curiga terhadap nafsu(tidak
ridho dengan nafsu)itu menjadi sumber ketaatan dan ingat kepada Alloh, itu
dikarenakan orang yang tidak ridho dengan nafsunya ia tidak menganggap baik
kelakuannya, sehingga ia selalu waspada dan selalu meneliti semua kelakuannya,
sehingga nafsunya tidak bisa bebas menguasai orang tersebut. dan orang yang
waspada terhadap gerak gerik nafsu akan selalu menjauhi apa yang dilarang oleh
Alloh. dan itulah yang dinamakan taat kepada Alloh.
ولاَنْ تصْحبَ جاهِلاً لاَيَرْضىَ عَن نَفسِهِ خيرٌ لكَ مِن اَن تصْحَبَ
عَالِماً يَرْضىَ عَنْ نَفسِهِ فَاَيُّ عِلمٍ لعاَلِمٍ يَرْضىَ عن
نفسهِ وَايُّ جَهْلٍ لِجاَهِلٍ لا يَرضىَ عن نفسهِ
44. "Dan sekiranya engkau bersahabat dengan orang bodoh yang tidak
menurutkan hawa nafsunya, itu lebih baik dari pada bersahabat dengan orang
berilmu [orang alim] yang selalu menurutkan hawa nafsunya. Maka ilmu apakah
yang dapat diberikan bagi seorang alim yang selalu menurutkan hawa nafsunya
itu, sebaliknya kebodohan apakah yang dapat disebutkan bagi seorang yang sudah
dapat menahan hawa nafsunya."
Syarah
Orang yang tidak ridho dengan nafsunya
akan selalu menganggap dirinya belum baik dan akhlaknya masih jelek.orang
seperti ini baik untuk dijadikan sahabat, karena sangat banyak manfaatnya
bagimu, kebodohannya tidak akan membahayakan dirimu.
Bagaimana akan dinamakan bodoh, seorang
yang telah dapat menahan dan mengekang hawa nafsunya, sehingga membuktikan
bahwa semua amal perbuatannya hanya semata-mata untuk keridhoan Alloh dan
bersih dari dorongan hawa nafsu. Sebaliknya apakah arti suatu ilmu yang tidak
dapat menahan atau mengendalikan hawa nafsu dari sifat kebinatangan dan
kejahatannya.
Dalam sebuah hadits ada keterangan:
"Seorang akan mengikuti pendirian sahabat karibnya, karena itu hendaknya
seseorang itu memperhatikan, siapakah yang harus diambil sebagai sahabat."
Seorang
penyair berkata: "Barang siapa bergaul dengan orang-orang yang baik, akan
hidup mulia. Dan yang bergaul dengan orang-orang yang rendah akhlaqnya pasti
tidak mulia.